mayoritas vs minoritas

Konspirasi mayoritas terhadap minoritas

Akankah kejujuran, kebenaran terkalahkan dengan suara terbanyak yang diliputi niatan buruk saat masa sekarang?????

Pemeran : Amir, Pak karta, pak sukro (antagonis)

Lita, pak sopir angkot    ( protagonis)

Hadi                             ( Figuran)

Sebuah angkot dengan 4 orang penumpang dan 1 sopir tentunya. Tiba-tiba ditengah jalan terlihat ikan segar seukuran pinggang orang dewasa dibawa oleh para tukang ojek, dipungutnya ikan-ikan itu dari jalanan yang bergeronjal dan sedikit berdebu. “Waah.., besar banget ikan itu….!” Celetuk si Amir. Ternyata di depan angkot yang kita tumpangi terlihat sebuah mobil bak terbuka dengan tertutup terpal biru, dari situlah ikan-ikan tersebut berjatuhan. Entah hendak kemana mobil bak terbuka itu mau melanjutkan perjalannya. Masih melaju cukup kencang, seakan sopir dan asistennya tidak merasakan bawaan mereka semakin ringan saja akibat selama perjalanan yang mereka lewati ikan-ikannya banyak yang jatuh. Tak kurang dari 300m di depan kami ikannya jatuh lagi, berkata sopirnya: “gimana nih…, apa sebaiknya kita bawa saja ya…ikan ini? Kasihan…nanti sopir pengangkut ikan itu ketika sudah sampai tempat tujuan, bukannya dikasih uang, eehh…malah diomelin ditambah harus gantiin ikan yang hilang.Pak karta nyeletuk,”apa… sopir dan asistennya tidak dari kaca spionnya kali…, bahwa ada ikan-ikan muatannya pada jatuh ya…?

“Iya…ya….bisa-bisa malahan nombok tuh sopirnya tuk nutupi setoran ikannya yang hilang”, jawab Amir. Seketika itu sopir angkot mengurangi laju kendaraan lalu berhenti untuk memungut ikan-ikan tadi dari tengah jalan bersama pak sukro. Seolah-olah ingin menyelamatkan ikan-ikan tersebut dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. “yuk ..kita kejara mobil bak terbuka warna biru itu, dan kita kembalikan ikan ini. Posisi ikan sudah di atas angkot kami, 3 ekor ikan ini mirip hiu kecil dengan mata, gigi dan siripnya terlihat tajam, untung saja ikan ini panjangnya hanya ½ meter saja.

Dalam perjalanan mobil angkot yang kami tumpangi sempat mengejar mobil bak terbuka pembawa ikan ini, akan tetapi setelah mobil biru tadi mendahului banyak mobil-mobil lain, tak pelak lagi kita tertinggal dan tak terlihat lagi kemana laju mobil bak terbuka tadi dengan terpal penutup biru.

Tak lama kemudian lita, putri bapak sukro yang berumur 7 tahun melihat mobil tadi sedang parkir di sebuah halaman rumah makan padang sebelah kanan jalan yang kami lewati kurang lebih 500m dari titik jatuhnya ikan-ikan tersebut. Seketika itu lita beranikan diri memberi tahukan hal tersebut kepada seluruh penumpang di angkot. Alhasil tak dihiraukannya perkataan si kecil yang masih lugu dan belum cukup umur. Mereka tak meyakini keberadaan mobil biru bak terbuka bakal parkir di situ. Para penumpang lain berpikir  bahwa tidaklah mungkin mobil bak terbuka yang penuh dengan muatan ikan akan berhenti di rumah makan padang tadi karena ikan-ikan itu akan dibawa ke Jakarta. Angkot kami masih melaju dengan kencangnya tuk mengejar mobil biru bak terbuka itu. Namun tak nampak juga tanda-tanda mobil yang dimaksud berada sejauh mata memandang ke arah depan kami.

di tengah perjalanan pak karta turun di dekat pabrik tua, tak lama kemudian si hadi juga turun dekat gang sawit berjaja para tukang ojek menghampiri si hadi…, terdengar bertanya …mau kemana neh bang melanjutkan perjalanan…kami antar yuk…!, makasih ; hadi menjawab. Angkot beranjak dari pemberhentian si hadi yang penuh dengan tukang ojek di ujung gang desanya. 15 menit berselang Amir minta diberhentikan di pertigaan jalan setelah lampu merah, menuju arah yang berbeda dari pak sukro beserta anaknya. Sesudah satu persatu penumpang turun, suasana kembali hening. Setibanya di depan pasar baru akhirnya pak sukro bilang kiri…pir ,dan itu artinya mereka mau turun. Pak sukro bilang ke sopir angkotnya: “pir…, tadi kan aku sudah bantuin ngangkat ikan-ikannya, boleh juga dong tak bawa satu hitung-hitung uang lelah ngambilin dari tengah jalan. Lagian tidak mungkin juga kan…ikan-ikan ini akan habis untuk dimasak satu keluarga? Lalu sopir angkot tadi mengiyakan pinta pak sukro. Tak banyak cakap lagi akhirnya pak sukro membawa ikan tersebut turun dari angkot, berjalan menuju pasar yang hiruk pikuk jual beli tanpa perasaan bersalah sedikitpun.

Tinggalkan Balasan