1. JUDUL DAN PENGARANGNYA
Judul : Merahnya Merah
Pengarang : Iwan Simatupang
2. SINOPSIS
Di sebuah kota besar muncullah seorang Tokoh Kita dalam komunitas gelandangan. Sebelumnya Tokoh Kita ini mempunyai sejarah kehidupan yang panjang. Sebelum meletusnya revolusi fisik Ia adalah seorang lelaki calon rahib. Saat revolusi Ia menjadi algojo yang bertugas untuk memenggal kepala para pengkhianat yang tertangkap. Namun setelah revolusi Ia masuk rumah sakit jiwa Dalam komunitas gelandangan Tokoh Kita mendapat cukup perhatian, di hormati dan dicintai oleh para anggota gelandangan lainnya.
Maria adalah salah seorang gelandangan yang dianggap sebagai ibu dan Ia mempunyai perhatian lebih kepada Tokoh Kita. Maria adalah seorang wanita setengah baya yang mempunyai sajarah hidup yang kelam. Sebelumnya, Ia bercita-cita menjadi seorang perawat, namun karena Ia takut bila melihat darah, cita-citanya pun tidak sempat Ia dapatkan. Setelah itu Ia bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah restoran katolik , namun tidak ada yang menyangka bahwa di restoran tersebut Ia akan mengalami nasib yang naas. Direstoran tersebut Ia diperkosa oleh seseorang yang Ia sendiri tidak tahu siapa orang itu. Seminggu setelah kejadian pemerkosaan itu, Maria keluar dari restoran itu setelah Ia melihat seorang pastor yang mati gantung diri.
Hubungan antara Tokoh Kita dengan Maria sangat dekat dan mesra. Namun setelah Tokoh Kita membawa Fifi untuk masuk ke dalam komunitas gelandangan, sikap Maria mulai suka uring-uringan dan sering marah karena Maria merasa cemburu melihat keakraban antara Tokoh Kita dengan Fifi. Fifi adalah seorang gadis berusia 14 tahun yang ditemukan oleh Tokoh Kita di suatu tempat. Karena keganasan suatu gerombolan, membuatnya menjadi seorang gadis yatim piatu dan tidak punya tempat tinggal. Keadaan tersebut memaksanya untuk menjadi seorang pelacur agar Ia tetap hidup diatas dunia ini. Dari awal Maria tidak menyukai Fifi masuk ke keluarga mereka, tetapi Ia terpaksa menerimanya karena Ia dipaksa oleh Tokoh Kita.
Suatu hari Fifi hilang, semua gelandangan pun dikerahkan untuk mencari Fifi, namun tidak ada yang berhasil. Pak Centeng merasa kecewa dan malu Karena gagal mencari Fifi, karena selama ini juga Pak Centeng dikenal sebagai orang yang belum pernah gagal dalam menjalankan misi. Beberapa hari berikutnya Tokoh Kita juga menghilang, lagi-lagi Pak Centeng tidak menemukannya. Namun yang membuat mereka bingung adalah saat Maria juga ikut menghilang. Seluruh gelandangan dikerahkan untuk mencari Maria tetapi hasilnya tetap saja nihil. Beberapa hari kemudian Tokoh Kita muncul di octor gelandangan tetapi tidak bersama dengan Fifi dan Maria. Semua
orang yang ada di komunitas gelandangan itu bertanya kepada Tokoh Kita dimana Fifi dan Maria berada. Kemudian Tokoh Kita menceritakan tentang apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Ternyata Fifi yang hilang itu sebenarnya telah dibunuh oleh Maria karena Ia merasa iri dan cemburu kepada Tokoh Kita yang berlebihan. Sedangkan Maria sekarang telah masuk biara, Ia mencoba untuk mengakui dosa-dosanya dan mengabdikan dirinya untuk Tuhan dengan harapan segala kesalahannya bisa dimaafkan oleh Tuhan Yang Maha esa.
Bagi para gelandangan kabar yang disampaikan oleh Tokoh Kita itu membuat mereka merasa haru dan lega. Namun bagi Pak Centeng sebaliknya, dia sangat marah kepada Tokoh Kita. Dia menganggap bahwa Tokoh Kitalah yang menjadi penyebab atas terjadinya semua keadaan ini. Sebelum Tokoh Kita masuk ke dalam komunitas gelandangan kehidupan mereka aman-aman saja. Tetapi setelah Tokoh Kita datang cinta Maria beralih kepada Tokoh Kita. Pak Centeng sangat marah dan Ia mencabut goloknya dan diarahkan ke kepala Tokoh Kita. Tetapi saat Pak Centeng ingin menebas leher Tokoh Kita, polisi datang dan mengacungkan pistol mereka kearah Pak Centeng. Karena Pak Centeng sangat marah dan benci kepada Tokoh Kita tanpa berpikir panjang tiba-tiba golok Pak Centeng langsung melayang ke kepala Tokoh Kita. Dan itu menyebabkan kepala Tokoh Kita langsung lepas dari tubuhnya, bersamaan dengan hal itu polisi pun
langsung menembak Pak Centeng. Akibatnya Tokoh Kita dan Pak Centeng meninggal di tempat yang sama dan dalam waktu yang bersamaan pula. Akhirnya keduanya pun meninggal dan dimakamkan dengan upacara militer yang dihadiri oleh pejabat tinggi Negara.
3.MAKNA
Makna yang dapat diambil dari novel literer ini adalah tentang kehidupan seorang tokoh yang masa hidupnya merasa bahagia karena dia bisa menjalin hubungan dengan dua wanita yaitu Maria dan Fifi sekaligus, tetapi karena Pak Centeng tidak menyetujui hubungan antara tokoh kita dan Maria, pak Centeng membunuh tokoh kita dengan cara memenggal tokoh kita hingga terputus dari badannya. Akhirnya Pak Centeng meninggal, karena polisi datang dan menembaknya
1. JUDUL DAN PENGARANGNYA
Judul : Harimau-Harimau
Pengarang : Mochtar Lubis
2. SINOPSIS
Harimau adalah salah satu binatang yang menjadi seekor raja hutan dan ditakuti oleh semua binatang yang ada di sana. Di dalam hutan yang gelap dan seram terdapat satu rumah yang dihuni oleh Wak Hitam, seorang dukun termasyur di kampungnya. Rumah itu dihuni oleh Wak Hitam dengan istri mudanya yaitu Siti Rubiyah. Tetapi selama tiga bulan terakhir ini Wak Hitam tinggal dengan Wak Katok (murid Wak Hitam), Pak Haji, Buyung, Talip, Sutan, Sanip (murid Wak Katok) dan Pak Balam yang merupakan teman Wak Hitam dari kampungnya. Mereka pergi dan menginap di rumah Wak Hitam karena mereka akan mencari dammar di hutan untuk dijual kekota. Setelah dua minggu berlalu mereka pun bergegas untuk pulang kekampung untuk menjual hasil dammar yang mereka peroleh dihutan.
Setelah itu mereka berpamitan dengan wak hitam yang sedang sakit keras dan berpamitan juga dengan Siti Rubiyah. Setelah mereka berpamitan mereka pun segera pergi menyusuri hutan untuk pulang ke kampung. Sebelum Buyung, Sanip, Sutan dan Talip sampai ke dalam hutan yang gelap dan seram, Buyung ingat dengan perangkat yang dipasang untuk menangkap kancil yang akan Ia berikan untuk Zaitun. Buyung melihat apakah perangkap yang dibuatnya berhasil menangkap kancil itu. Kemudian Ia pergi ketempat perangkap itu dan Ia meninggalkan keranjang dammarnya dibawah pohon besar didekat anak sungai. Kemudian Ia sampai ke tempat dimana perangkap untuk kancil itu dibuat, ternyata di dalamnya telah ada seekor kancil yang berputar-putar di dalam perangkap itu. Buyung kemudian mengambil kancil itu dan segera mengobatinya dan memberinya makan. Setelah ia mengambil kancil itu Ia bergegas menyusul ketiga temannya, Ia melewati sebuah sungai dan Ia tak sengaja melihat Siti Rubiyah disungai habis mandi. Kemudian Buyung mendekat dan Siti Rubiyah. menceritakan kejadian yang dialami saat Ia tinggal dengan Wak Hitam di dalam hutan yang gelap. Siti Rubiyah meminta Buyung untuk melepaskannya dari Wak Hitam, tetapi Buyung tak tahu apa yang harus Ia lakukan untuk menolong Siti Rubiyah.
Kemudian setelah beberapa lama Ia pun bergegas mengikuti ketiga temannya yang sudah berjalan didepannya. Tetapi tiga temannya itu juga baru sampai di kampong.Setelah itu mereka diajak oleh Wak katok untuk berburu rusa tetapi merka tidak mendapatnkan rusa buruannya itu. Dan mereka kembali keesokan harinya untuk berburu rusa di hutan dan juga mengambil dammar. Tidak lama kemudian mereka menemukan rusa dan Wak Katok pun segera menembaknya dengan senapan angina yang Ia bawa itu. Mereka semua kelelahan karena sudah seharian mereka berburu rusa di hutan dan mereka pun memutuskan untuk tidur di hutan yang gelap. Tak lama kemudin mereka mendengar suara Pak Balam meminta tolong. Ternyata harimau yang datang itu mencium bau darah rusa dari baju yang dipakai oleh Pak Balam saat Pak Balam membuang hajat. Pak Balam menagalami luka yang sangat parah, Ia pun segera diobati oleh Wak Katok.
Setelah beberapa saat Pak Balam menceritakan semua dosa-dosa yang pernah Ia dan Wak katok lakukan selama hidup dahulu kala karena Pak Balam sadar kalau kedatangannya ke hutan adalah saat terakhirnya hidup didunia. Setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya Pak Kalam pun kemudian meninggal dunia. Begitu juga dengan ketiga teman Buyung (Sutan, Talip dan pak haji) ketiganya meninggal karena dibunuh oleh harimau yang sangat besar. Selang beberapa lama Buyung dan Sanip sadar bahwa harimau yang menyerang dan membunuh ketiga temannya itu adalah harimau milik Wak Hitam yang dipinjam oleh Wak Katok. Wak Katok sengaja menyewa harimau itu untuk menakuti teman-temannya. Dan pada saat yang sama pula Buyung mengetahui sifat Wak Katok yang sebenarnya.
Lalu Buyung dan sanip mempunyai sebuah ide untuk mengikat Wak Katok dipohon untuk dijadikan umpan menangkap harimau. Tidak lama kemudian harimau itu datang dari hutan yang gelap dan seram karena melihat Wak Katok. Tanpa berpikir panjang Buyung pun langsung menembak harimau hingga tewas. Buyung dan Sanip merasa tenang dan senang karena mereka bisa pulang kehutan dengan selamat, begitu juga dengan Wak Katok. Saat kembali ke kempung Buyung dan Sanip ingin menjalani kehidupan yang normal dan sederhana tanpa memikirkan atau tanpa menggunakan ilmu sihir/ tenung untuk mendapatkan keinginannya. Dan mereka pun juga menginginkan hidup bahagia bersama dengan seorang wanita yang dicintainya.
3. MAKNA
Dalam kajian semiotik makna yang dapat diambil dari cerita ini adalah tentang kehidupan masyarakat perkampungan yang menggatungkan hidupnya dengan mencari dammar dan berburu rusa di hutan untuk dijual ke kota. Hidupnya disebuah hutan yang di dalam hutannya terdapat binatang buas yaitu harimau, tetapi harimau ini milik Wak Hitam. Dan harimau ini juga mengambil nyawa Pak Balam tetapi ketika harimau itu hampir mengambil nyawa Pak Balam pada saat itu juga Pak Balam sudah sadar atas dosa-dosanya yang lakukan pada masa hidupnya.
1. JUDUL DAN PENGARANG
Judul : Kemarau
Pengarang : A.A. Navis
2. SINOPSIS
Para petani semakin putus asa karena musim kemarau panjang yang melanda negeri mereka. Sawah dan ladang mereka sangat kering dan cuaca panas sangat menyengat tubuh. Keadaan itu membuat mereka tidak mau lagi menggarap sawah atau mengairi sawah mereka. Mereka hanya bermalas-malasan dan bermain kartu saja. Namun ada seorang petani yang tidak menyerah dengan keadaan inidan Ia selalu mengairi sawahnya setiap hari. Ia dikenal sebagai Sutan Duano. Ia mengairi sawah dengan cara mengangkat air dari danau yang ada di sekitar desa mereka sehingga padinya tetap tumbuh. Ia tidak menghiraukan panasnya matahari yang membakar tubuhnya. Ia berharap agar para petani di desanya mengikuti perbuatan yang Ia lakukan. Ia juga berusaha memberikan ceramah kepada ibu-ibu yang ikut dalam pengajian di desa mereka
Namun tak satu pun petani yang menghiraukan ceramahnya, apalagi mengikuti langkah yang dilakukannya. Tampaknya keputusasaan penduduk telah sampai pada puncaknya. Suatu hari ada seorang anak bernama Acin yang membantu Sutan Duano untuk mengairi sawahnya, keduanya saling bergantian untuk mengambil air di danau. Penduduk yang melihat kerjasama mereka bukannya mencontoh apa yang mereka lakukan, melainkan mereka menyebar fitnah dan menggunjingkan bahwa niat Sutan Duano sebenarnya adalah untuk mendekati Gundam. Gundam adalah ibunya Acin yang telah menjadi seorang janda. Bahkan ada seorang janda yang menyukai Sutan Duano pun ikut mempercayai fitnah tersebut. Fitnah itu semakin memanaskan telinga Sutan Duano, tetapi Ia tidak menanggapinya dan bersikap tenang. Suatu haru Sutan Duano mendapat telegram dari Masri, anaknya yang selama 20 tahun telah disia-siakannya. Masri meminta Sutan Duano untuk pergi ke Surabaya.
Dalam hatinya, ia ingin sekali bertemu dengan anak semata wayangnya itu. Namun Ia tidak mau meninggalkan Acin yang masih membutuhkan bimbingannya. Setelah mempertimbangkan dengan masak-masak, Ia pun memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Sementara itu penduduk desa merasa kehilangan atas kepergiannya. Apalagi setelah mereka membuktikan bahwa semua saran yang diberikan oleh Sutan Duano itu telah memberikan hasil. Mereka merasa menyesal telah salah sangka terhadanya.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba , Sutan Duano pun berangkat ke Surabaya. Namun sesampainya Ia di kota tersebut, hatinya menjadi hancur ketika Ia bertemu dengan mertua anaknya. Ternyata mertua anaknya itu adalah Iyah mantan istrinya. Ia marah kepada Iyah karena telah menikahkan dua orang bersaudara. Sutan Duano sangat marah dan mengancam akan memberitahukan kepada Masri dan Arni. Namun, Iyah berusaha menghalangi dengan cara memukul kepala mantan suminya dengan sepotong kayu. Jika saja Arni tidak menghalanginya kemungkinan besar nyawa Sutan Duano tidak akan selamat. Melihat mantan suaminya bersimbah darah, Iyah merasa menyesal, kemudian Ia memberi tahu kepada Masri dan Arni bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya. Betapa terkejutnya Arni saat mendengar berita itu.
Kemudian Ia menceritakan hal itu kepada suaminya. Sehingga mereka sepakat untuk berpisah. Tak lama kemudian Iyah meninggal dunia, sedangkan Sutan Duano pulang ke kampung halamannya dan menikah dengan Gundam.
3. MAKNA
Makna yang terkandung dalam cerita novel ini adalah sebuah makna sosiologi. Dimana penduduk desa beramai-ramai dalam mengembangkan usahanya mengelola sawah dan desa tersebut. Tetapi di desa ini pernah mengalami kekeringan untuk sawahnya, berbagai cara dilakukan oleh penduduk desa tersebut, akhinya suatu hari datang keajaiban dengan tidak ada lagi cuaca kemarau yang telah membuat mereka bingung
1. JUDUL DAN PENGARANG
Judul : Para Priyayi
Pengarang : Umar Kayam
2. SINOPSIS
Wanagalih adalah sebuah ibu kota kabupaten yang berada di sekitar Madiun. Ditempat itulah latip kemudian dirawat dan tinggal di kelurga besar Sastrodarsono yang merupakan keluarga keturunan priyayi. Lantip adalah seorang anak penjual tempe tinggal di wanawalas sebelum Ia tinggal di jalan Setenan (dikeluarga Sastrodarsono). Sebelum namanya menjadi Lantip, nama aslinya adalah Wage, namun setelah Ia tinnggal disana putra-putri Ndoro Sastrodarsono sudah membangun keluarga mereka masing-masing. Anak Ndoro Sastrodarsono yang pertama adalah Noegroho, yang tinggal di Yogyakarta menjadi guru HIS yaitu Sekolah Dasar untuk para anak priyayi. Yang kedua Ndoro Hardojo yang memilih menjadi abdi dalem Mangkunegaran, Solo dan bekerja dibagian pendidikan orang dewasa dan gerakan pemuda dengan pangkat wedana. Dan anak Ndoro Sastrodarsono yang paling muda adalah Den Ajeng Soemini yang menikah dengan Raden Hardojo Cokrokusumo yaitu seorang asisten wedana di Karang Gelo.
Dikeluarga Sastrodarsono Lantip diajari cara untuk membersihkan rumah dan merapikan meja makan serta kamar tidur. Setelah beberapa lama Ia disana, Lantip mendengar kabar bahwa Emboknya sudah meninggal karena keracunan jamur. Lantip menjadi sangat sedih mendengar berita itu, karena Ia akan hidup sendiri dengan kelurga yang merawatnya yaitu keluarga Sastrodarsono. Nama Ndoro Seten itu sebenarnya adalah Soedarso anak tunggal Mas Atmokasan seorang petani desa Kedungsimo dan dialah orang pertama yang dalam keluarga besar yang berhasil menjadi seorang priyayi. Waktupun cepat berlalu kemudian Diapun menjadi seorang guru Bantu di Karangdompol dan tinggal di Wanagalih. Tidak lama kemudian Sastrodarsono menikah dengan seorang sanak saudara jauh yaitu Dik Ngisah/Aisah, yang juga termasuk dalam keluarga seorang priyayi.
Lantip ingin sekali mengetahui tentang seluk beluk Ayahnya, kemudian Lantip pun bertanya kepada Pakde Soeto dan Ia pun menceritakan semuanya bahwa Ayah dari lantip adalah Den Bagus Soenandar anak dari sepupu perempuan Ndoro Mantri Guru Kakung/ Sastrodarsono. Den bagus Soenandar tinggal jauh dari saudara-saudaranya di kaki gunung Lawu. Setelah Den Bagus Soenandar menghamili Ngadiem/ Embok lantip kemudian terdengar kabar kalau Den Bagus Soenandar bergabung dengan gerombolan perampok samin genjik yang diakhir hidupnya tewas terbakar di wilayah Garang-Gareng. Mendengar cerita dari Pakde Soeto ternyata umpatan yang sering di dengar dari mulut Ndoro Sastrodarsono benar adanya yaitu anak maling , perampok, gerombolan kecu. Tetapi umpatan itu tidak akan menyakiti hatinya lagi. Ndoro Kakung dan Ndoro Putri Sastrodarsono lebih banyak mengisi waktu luang mereka untuk bekerja di tegalan padi dan di sawah tadah hujan mereka.
Pada suatu pagi tiba-tiba ada suatu panggilan mendadak bagi Ndoro Kakung untuk segera berkumpul di kabupaten, guna mendengarkan penjelasan tentang peraturan sekolah yang baru. Setiap pagi, baik guru maupun murid harus menghadap kearah utara membungkukan badan dalam-dalam memberi hormat kepada Tenno Heika, kaisar jepang yang katanya adalah keturunan dewa. Setelah itu diwajibkan taiso yaitu olahraga, kemudian mulai dengan pelajaran dan setiap hari harus ada pelajaran bahasa Nippong. Ndoro Guru Kakung merasa tidak nyaman, kemudian Ia memutuskan untuk pension dari sekolah Karangdompol. Tiba-tiba Menir Sutarjo menjelaskan dengan hati-hati. Walaupun Ndoro Sastrodarsono sudah pensiun tetapi tetap diminta untuk masih membantu di Karang Dompol. Menir Sutarjo meminta Ndoro Sastrodarsono untuk meminta maaf kepada Tuan Sato. Kemudian Tuan Sato membungkuk-bungkukkan tubuh Ndoro Sastrodarsono, karena Tuan Sato merasa tidak puas maka kepala Ndoro Sastro darsono ditempeleng hingga beliau jatuh kemudian Tuan Sato pun pergi begitu saja.
Tidak lama kemudian putra-putri Ndoro Sastrodarsono datang, beliau tampak selalu lesu sejak kedatangan Tuan Nippong, tetapi beliau sudah mau sekali berbicara saat melihat putra-putrinya. Mereka semua kemudian berkumpul di ruang tengah Ndoro Sastrodarsono lalu meminta Lantip untuk menyanyikan lagu-lagu jawa. Lantip pun segera menembang dengan baik, suasana malam itu adem, tentrem tetapi juga seronok. Hardojo adalah anak kedua Ndoro Sastrodarsono yang gagal menikah dengan Dik Nunuk lantaran perbedaan keyakinan/agama. Mereka sudah berhubungan sangat lama dan Hardojo pun sudah kenal dengan keluarga Dik Nunuk. Pada mulanya mereka sudah setuju untuk menikah tetapi karena perbedaan itu mereka tidak jadi untuk menikah. Hardojo merasa hatinya sangat hancur dan Ia berpikir mengapa orang yang saling mencintai harus dipisahkan karena perbedaan agama.
Tidak lama kemudian Ndoro Sastrodarsono mencarikan jodoh untuk hardojo yaitu Sumiarti. Sumiarti adalah anak keturunan priyayi. Kemudian merekapun menikah dan dikaruniai anak bernama Harimurti. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pintar. Ia mula-mula tidak begitu menyukai Lantip tetapi lama-kelamaan dia sangat menyayangi Lantip. Beberapa waktu kemudian saat Harimurti mencoba untuk masuk kedunia seni/pelukis lekra, Ia bertemu dengan Gadis/Retno Dumilah. Harimurti sangat menyukai Gadis sejak pandangan pertama. Ia menyukai gadis karena meskipun Ia adalah seorang anak keturunan priyayi, namun Ia begitu polos dan tajam dalam menyampaikan pandangan-pandangannya tentang kesenian dan pandangan masyarakat. Tidak lama mereka kemudian mereka saling mengungkapkan kalau mereka saling mencintai, mereka sudah berhubungan lama sekali, dan Harimurti sudah mengenal kelurga dari Gadis dengan baik. Setelah lama berhubungan, dalam tubuh Gadis sudah tumbuh bibit/anak dari Harimurti.
Suatu saat angkatan bersenjata datang dan mengambil alih dan mulai mengadakan pembersihan terhadap semua anggota PKI dan ormas-ormasnya. Hari dan Gadis dianjurkan untuk pulang. Gadis kemudian pulang ke Wates sedangkan Hari tinggal dengan Ayah dan Ibunya. Kemudian Hari pun tertangkap di tempat persembunyiannya karena Ia diduga sebagai anggota PKI dan Hari pun dimasukkan kedalam penjara. Di dalam penjara Ia memikirkan hubungannya dengan Gadis. Karena kebaikan hati Pakde Noegroho, Hari dibebaskan dan hanya menjadi tahanan rumah. Kira-kira 2 bulan kemudian Kang Lantip datang membawa kabar tentang Gadis. Lantip menceritakan bahwa Gadis telah tertangkap dan dibawa ke Plantungan, Gadis bersama dengan beberapa teman Gerwani tertangkap ditempat persembunyian mereka didekat Magelang. Saat Gadis tertangkap Ia sedang hamil tujuh bulan anak dari Harimurti. Kemudian Harimurti menceritakan hubungannya dengan Gadis kepada Bapak, Ibu dan Kang Lantip. Tetapi mereka tidak merasa sedih, mereka meminta Lantip untuk pergi ke Plantungan dan menghubungi Pakde Noegroho untuk membantunya. Saat Lantip tiba di rumah Gadis Ia langsung menceritakan semuanya tentang Gadis kepada keluarganya.
Tidak lama kemudian Pakde Noegroho datang memberi kabar bahwa saat melahirkan nanti Gadis bisa mendapat perlakuan yang baik. Dan atas kebaikan hati Pakde Noegroho Gadis bisa bebas. Mendengar berita itu Harimurti merasa sangat senang. Ia mendapat kabar bahwa Ia mempunyai dua orang anak laki-laki dan perempuan dari hasil hubungan mereka. Keesokan harinya seluruh keluarga Harimurti pergi ke Plantungan untuk menjemput Gadis. Hari merasa sangat senang, Ia menunggu kedatangan Gadis dengan perasaan yang berdebar-debar. Namun setelah seluruh keluarga itu pulang kemudian Ibu Hari menceritakan bahwa Gadis telah meninggal saat melahirkan anak mereka. Hari merasa sangat sedih mendengar kabar itu, padahal Ia ingin sekali bertemu dengan Gadis/Retno Dumilah. Tiba-tiba kami semua dikejutkan karena mendapat surat dari Pakde Nga diman yang mencerikan bahwa kesehatan Eyang Kakung Sastrodarsono semakin memburuk. Kemudian seluruh keluarga itu pun berkumpul di Setenan untuk melihat keadaan Eyang Kakung Sastrodarsono. Setelah mereka semua itu berkumpul Embah Kakung mengatakan bahwa pohon nangka itu harus dihibahkan kepada para penduduk. Tidak lama kemudian setelah seluruh keluarga berkumpul Embah Kakung pun meninggal dunia. Kemudian Lantip mendapat keistimewaan untuj pidato selamat jalan kepada Embah Kakung Sastrodarsono.
3. MAKNA
Dalam novel yang berjudul ”Para Priyayi” ini makna yang dapat kita ambil adalah kehidupan para priyayi yang bergantung pada adat istiadat yang diyakini baik dalam norma kesopanan dan tata krama.
1. JUDUL DAN PENGARANGNYA
Judul : Canting
Pengarang : Arswendo Atmowiloto
2. SINOPSIS
Canting adalah merk batik di Solo. Pengusaha itu bernama Raden Ngabehi Setrokusumo, dia adalah seorang keturunan priyayi, kaya, yang dihormati dan disegani oleh banyak orang. Akan tetapi Raden Ngabehi Setrokusumo sangat menyukai tuginem. Tuginem adalah seorang buruh yang bekerja di pabrik tradisional milik Raden Ngabehi Setrokusumo, Raden Ngabehi Setrokusumo berniat untuk menikahi dengan Tuginem, tentu saja hal itu mendapat tantangan dari keluarga besar Raden Ngabehi Setrokusumo karena Tuginem tidak berasal dari keluarga keturunan priyayi. Tetapi sekalipun Ia mendapat tantangan dari keluarga besarnya, Ia tetap menikah dengan Tuginem. Setelah mereka menikah kehidupan rumah tangga Raden Ngabehi Setrokusumo dengan tuginem sangat harmonis. Mereka sama-sama merasakan kebahagian dalam kehidupan rumah tangga. Tuginem sangat bersyukur sekali dan Ia benar-benar mengabdikan dirinya kepada suaminya.
Setelah menikah Tuginem dipanggil dengan sebutan Bu Bei yang secara diam-diam telah membantu usaha suaminya itu. Karena kerja kerasnya usaha batik merk canting milik mereka berkembang dengan pesat. Walaupun Bu Bei seorang wanita pekerja keras, Ia tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya menjadi seorang ibu rumah tangga. Dia tetap melayani suami dan semua anaknya dengan penuh rasa kasih sayang, oleh sebab itu keenam anaknya tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Wahyu Debrata menjadi seorang dokter, Lintang Dewanti menjadi seorang istri colonel, Bayu Dewasunu menjadi seorang dokter gigi, Ismaya Dewikusuma menjadi seorang insinyur, Wening Dewamurti menjadi seorang dokter yang kemudian menjadi seorang kontraktor yang sukses dan yang terakhir Subandini Dewaputri menjadi seorang sarjana farmasi. Namun karena usia Bu Bei yang semakin tua, dalam mengurus usaha batik dan menangani pedagang di pasar klewer Solo dan menjajakan batik cantingnya mulai menurun, padahal pada saat itu bantik canting milik mereka mulai mendapat saingan dari produk batik pabrik besar dan modern.
Melihat usaha batik milik orang tuanya menurun Subandini Dewaputri mempunyai ide untuk mengambil alih dan membangkitkan kembali usaha keluarganya. Namun niatnya itu ditentang oleh semua kakaknya, tetapi perselisihan itu dapat diselesaikan oleh Raden Ngabehi Setrokusumo dengan bijaksana. Dan tidak lama kemudian Bu Bei meninggal dunia, kemudian usaha batik itu diambil alih oleh Subandini. Dengan semangat Ia melakukan persaingan batik keluaran pabrik besar dan modern tetapi Ia kalah bersaing, penjualan batik mereka merosot. Akhirnya Ia jatuh sakit dan hampir meninggal. Akhirnya Ia memahami mengapa usaha batiknya tidak dapat bersaing dengan batik keluaran pabrik yang modern. Dengan keteguhan hatinya Ia memutuskan untuk mengganti nama batik canting daryono. Dengan nama baru Ia meneruskan usaha batik tradisional milik keluarganya.
Keputusan untuk mengubah nama batik itu tepat, tidak lama kemudian usaha mereka maju pesat dan dapat bersaing dengan batik keluarga pabrik besar dan modern. Ia dibantu oleh semua kakaknya, kemudian batik mereka mulai dikenal tidak hanya dalam negeri saja namun mulai dilirik oleh turis asing. Mereka sekeluarga saling bahu-membahu dalam menangani usaha batik tersebut. Akhirnya Subandini menikah dengan Hermawan, pria pilihan hatinya. Kemudian pesta pernikahan mereka diadakan tepat setahun meninggalnya Bu Bei, seorang pengelola batik canting yang paling legendaries dalam kelurga besar Setrokusumo
3. MAKNA
Makna yang dapat diambil dari cerita ini adalah kebudayaan yang berada di daerah Jawa tepatnya di kota Solo. Dan menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang hidup mempertahankan kebudayaan Jawa dan mempertahankan pebrik batik canting.
1. JUDUL DAN PENGARANG
Judul : Saman
Pengarang : Ayu Utami
2. SINOPSIS
Laila seorang gadis muda yang jauh hati pada Sihar, mereka bertemu pertama kali pada saat Laila berkunjung ke tambang minyak bumi di laut cina selatan, saat Nayla ditugaskan di CV. Mereka untuk mengetahui tentang tambang minyak bumi tersebut . laila ditugaskan sebagai seorang fotografer. Dia melihat Sihar pertama kali di tambang minyak bumi sebagai Seismoclypes, Oil servis, seketika itu Laila langsung jatuh cinta pada Sihar. Akan tetapi cinta itu terhalang oleh sesuatu yaitu istri Sihar. Walaupun Sihar sudah mempunyai istri Laila tetap mencintainya. Beberapa saat kemudian di tambang itu ada sebuah kejadiaan yang merenggut nyawa para pekerja. Akhirnya Sihar minta diberhentikan dari pekerjaannya itu, sebelum Sihar meninggalkan tempat itu, Ia sempat berkelahi dengan Rasono dan setelah itu Sihar pun diberhentikan dari pekerjaannya itu.
Kemudian Sihar pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan sekolah di New York sedangkan Laila pergi ke Amerika Serikat. Laila menunggu kabar dari Sihar sampai berbulan-bulan lamanya tetapi Ia tidak pernah mendengar kabar dari Sihar. Laila merasa sangat putus asa tetapi Ia masih mendapatkan dukungan dari teman dekatnnya yaitu Sakuntala. Dalam hal lain nama Saman sendiri itu adalah Wisanggeni yang berprofesi sebagai seorang pastor di Lubuk Rantau. Dia seorang yang sangat rajin dalam beribadah dan Ia sangat menaati peraturan menjadi seorang pastor.
Pada suatu malam Wisanggeni didatangi oleh seorang wanita cantik yang tidak bisa berbicara dan Ia gila. Kemudian wanita itu berlari ke hutan dan Wisanggeni pun mengejarnya, wanita itu bernama Upi. Ia berlari sangat kencang sampai akhirnya Ia terjatuh ke dalam sebuah sumur tua dan Wisanggeni menolongnya. Setelah Wisanggeni berhasil menolongnya Ia dibawa ke kampong, tetapi warga kampong tidak mau menolongnya karena tidak ada oksigen. Kemudian dengan susah payah Saman pun membawa Upi ke rumah sakit dan Saman pun ikut pingsan karena kelelahan.
Akhirnya tidak lama kemudian Saman menemukan alamat Upi dan setelah itu Ia langsung membawa Upi pulang ke rumahnya. Lama kelamaan Wis jatuh cinta kepada Upi karena Upi tidak pernah diperlakukan dengan baik. Dia diperlakukan dengan sangat buruk oleh anggota keluargannya. Ia sering di pasung dan dipenjara dalam kotak bambu yang berukuran satu koma delapan meter. Kemudin Wis meminta ijin untuk memperbaiki rumah Upi di perkebunan karet milik kelurga Upi. Sehingga Wis meminta ijin kepada Ayahnya untuk membantunya dalam memperbaiki rumah Upi yang ada dikota Yogyakarta dan akhirnya Ayahnya menyetujui hal itu.
Tidak lama kemudian muncullah sebuah konflik antara Saman dengan pemerintah Lubuk Rantau. Perselisihan itu dipicu karena pemerintah menginginkan perkebunan karet milik kelurga Upi itu diganti dengan perkebunan kelapa sawit. Dengan alasan karena karet sudah tidk laku untuk dijual dan walaupun masih bisa dijual tetapi harganya turun sangat drastis. Penduduk yang mengetahui hal itu ada yang tidak setuju dan ada yang setuju.
Penduduk yang tidak setuju akan hal itu kemudian memberontak. Pemberontakan itu terjadi karena ada sebuah teror yang mengusik warga antara lain yaitu pemerkosaan Upi dan istri Anson dan rumah kincir pun dirusak. Akhirnya warga membakar pos polisi yang berada di hutan. Secara tidak sengaja Wis diculik oleh pemerintah Lubuk Rantau. Ia disiksa dan dianiyaya sampai 15 hari. Dia disekap dan dikurung di pabrik kelapa sawit, dia disetrum dan dianiaya oleh para algojo karena Ia dianggap sebagai seorang provokator yang mengkristenisasi penduduk Lubuk Rantau.
Para penduduk mengetahui kalau Wis disekap kemudian mereka membakar pabrik itu dan Wis dilarikan ke rumah sakit. Tidak hanya itu saja, Wis dinyatakan sebagai seorang buronan pemerintah Lubuk Rantau dan Ia juga sering dicari oleh polisi. Akhirnnya dia disuruh oleh Peter Westernburg untuk melarikan diri dan mengganti namanya. Akhirnya Wis menyetujui hal itu dan pergi ke Indonesia setelah itu Wis mengganti namanya menjadi Saman. Wis dibantu oleh dua orang wanita yaitu Yasmin dan Cok, Dia membantu Wis untuk pergi dari Indonesia dan dia d asingkan di New York. Di akhir hidupnya Ia tidak percaya lagi denngan adanya Tuhan dan Kepastoran, saat itu Ia pun menjalin hubungan dengan Yasmin. Mereka menjalani hubungan yang terlarang karena Yasmin sudah memiliki seorang suami, tetapi hubungan cinta itu tetap berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dari suaminya.
3. MAKNA
Makna yang dapat diambil dari cerita ini adalah kehidupan Wisanggeni yang selalu ditimpa masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Dia adalah seorang pastur yang saat pertama kali sangat percaya kepada Tuhan tetapi diakhir hidupnya Ia sangat ingkar dan ragu kepada Tuhan.
1. JUDUL DAN PENGARANGNYA
Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang : Ahmad Tohari
2. SINOPSIS
Dukuh paruk adalah sebuah desa yang terkenal dengan seorang ronggeng yang mampu menghidupkan desanya sampai ke kota dan kepelosok desa lain. Namun setelah beberapa waktu berlalu dukuh paruk seakan sepi karena tidak ada lagi seorang ronggeng yang kekosongan/ keramaian dukuh paruk. Tetapi tidak lama kemudian benih-benih ronggeng mulai muncul dalam diri Srintil. Srintil adalah seorang gadis kecil yatim piatu, berusia 11 tahun. Srintil diasuh oleh Kakek dan Neneknya karena kedua orang tua mereka meninggal karena terkena racun tempe bongkrek buatan Ibunya sendiri. Bakat mmenari yang dimiliki Srintil diketahui oleh kakek dan neneknya saat mereka melihat Srintil sedang menari di kebun yang diiringi oleh suara Rasus dan teman-temannya. Mulai saat itu kakek dan nenek melihat gelagat Srintil yang suka menari itu. Selang beberapa waktu Srintil pun dinobatkan menjadi seorang ronggeng. Mendengar berita bahwa dukuh paruk sudah menemukan seorang ronggeng yang mampu membangkitkan kembali dukuh paruk yang mati, seluruh penduduk menyambutnya dengan gembira. Karena dengan adanya ronggeng tersebut citra dukuh paruk yang terkenal sebagai dukuh ronggeng akan kembali menggema.
Beberapa hari kemudian Srintil akan menari pertama kali didepan para penonton dari segala penjuru. Kemudian Srintil pun dirias selayaknya seorang ronggeng. Walaupun Srintil masih sangat muda namun setelah dirias, Ia selayaknya seorang yang sudah dewasa. Ia menjadi seorang anak yang sangat cantik dan manis. Tidak lama kemudian Srintil pun keluar dari bilik dan mulai manari selayaknya seorang ronggeng. Tamu-tamu datang dari segala penjuru desa untuk melihat seorang ronggeng yang baru. Uang-uang beterbangan ke atas punggung Srintil, ramainya seloroh-seloroh cabul dan sebagainya serta ramainya para pesaing dalam memperebutkan ronggeng Srintil dan suasana-suasana gembira lainnya.
Bau harum dari makam keramat Ki Secamenggala pasti akan menyebar kembali menyelimuti dukuh paruk. Kakek dan nenek Srintil berpikir bahwa Srintil telah mewarisi bakat menjadi seorang ronggeng dan Srintil adalah seorang yang terpilih menjadi seorang ronggeng. Orang yang merasa paling bahagia dengan dinobatkannya Srintil menjadi seorang ronggeng adalah kakek dan neneknya. Usaha mereka dalam merawat dan mendidik Srintil selama 11 tahun tidak sia-sia. Dan yang terpenting juga mereka menjadikan Srintil sebagai seorang ronggeng sudah mendapat restu dari dukuh ronggeng keramat Ki Secamenggala agar dapat terlaksana dengan baik dan sukses.
Seluruh penduduk dukuh paruk merasa sangat gembira, tetapi tidak dengan Rasus. Pemuda yang sangat mencintai Srintil. Rasus merasa sangat kecewa dan sedih menerima kenyataan bahwa Srintil telah dinobatkan menjadi seorang ronggeng. Sebab bagaimanapun juga Srintil adalah seorang kekasih yang sangat Ia cintai. Akan tetapi jika Srintil menjadi ronggeng maka itu berarti Srintil akan menjadi milik semua orang. Semua orang akan bebas meniduri Srintil karena memang itulah kehidupan seorang ronggeng sejak dulu.
Untuk menjadi seorang ronggeng Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada orang yang telah ditentukan oleh sang dukun ronggeng yaitu Ki Kertareja. Rasus sudah mengetahui bahwa pemuda Dower dan Sulam lah yang akan mendapatkan keperawanan Srintil pertama kali. Karena kedua pemuda itu telah memenangkan sayembara yang telah ditentukan oleh dukun Ki Kertareja. Sulam sudah menyerahkan Seringgit uang emas dan pemuda Dower menyerahkan seekor kerbau dan dua rupiah uang perak kepada Ki Kertareja.
Pada suatu malam yang sudah ditentukan oleh Kertareja, Srintil pun dibawa ke makam Ki Secamenggala yang kemudian Ia akan dimandikan di depan makam itu. Setelah Srintil dimandikan, Ia akan menjalankan tahap selanjutnya yaitu menjadi budak kelambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada seorang yang sudah ditentukan oleh dukun Kertareja yaitu Dower dan Sulam. Pada malam itu kedua pemuda bertengkar disamping rumah dukun Kertareja salingmemperebutkan siapa yang berhak untuk mendapatkan giliran pertama meniduri Srintil. Pertengkaran itu diam-diam didengar oleh Rasus. Tanap diduga, saat Rasus dalam keadaan sedih yang mendalam tiba-tiba Srintil muncul menghampiri Rasus dibelakang rumah dukun Kertareja. Srintil memohon kepada Rasus untuk menidurinya waktu itu, sebab Srintil sangat membenci kedua pemuda itu. Permintaan Srintil pun akhirnya dikabulkan oleh Rasus sebab sudah lama Ia menginginkan hal itu.
Setelah Rasus selesai meniduri Srintil barulah kedua pemuda itu datang. Setelah meniduri Srintil Rasus pergi meninggalkan dukuh paruk dan Srintil orang yang sangat Ia cintai dan dibencinya saat itu, karena Srintil sudah menjadi milik semua orang. Kemudian Rasus pergi ke desa Dawuan untuk mengasingkan diri. Bayangan Srintil muncul dalam diri Rasus sebbagai bayang-bayang Emaknya. Rasus mencoba menyingkirkan bayang-bayang Srintil dari dalam dirinya. Ketika Srintil datang untuk meminta Rasus menjadi suaminya, Rasus menolak dengan tegas karena Rasus sudah memutuskan untuk mengalah dan membiarkan Srintil menjadi milik orang banyak dan menjadi ronggeng kebanggaan dukuh paruk.
3.MAKNA
Makna yang dapat diambil adalah tentang kesenian ronggeng yang berada di daerah Jawa. Kesenian Ronggeng tersebut yang telah hampir menghilang karena tidak ada lagi seorang ronggeng yang menghidupkan kembali Dukuh Paruk. Tetapi setelah sekian lama mereka menunggu datangnya ronggeng Srintil pun dinobatkan sebagai ronggeng. Setelah para penduduk mendengar berita itu mereka merasa sangat senang.
1. JUDUL DAN PENGARANG
Judul : Khotbah Diatas Bukit
Pengarang : Kuntowijoyo
2. SINOPSIS
Keluarga Barman adalah keluarga yang bahagia. Barman seorang pensiunan pegawai negeri. Anaknya yang bernama Bobi menyuruh Ayahnya untuk mengisi harinya di sebuah villa. Akan tetapi hal ini ditentang oleh menantunya karena usia mertuanya sudah mulai uzur. Walaupun sudah uzur pak Barman tetap bersikeras untuk pergi ke villa, karena dia merasa tenang dengan udara yang seluk di pegunungan. Di sana dia menemukan jodoh lagi. Seorang wanita yang cantik yang dipilihkan anaknya. Mereka pun akhirnya menikah.
Mereka sangat bahagia walaupun Barman tidak bisa mencukupi kebahagiaan dalam hubungan yang lebih khusus, karena sudah uzur.Akan tetapi Popi istrinya tidak mempermasalahkan hal itu. Hal ini mungkin Popi pernah menjadi kupu-kupu malam.
Suatu hari Barman bertemu dengan seorang laki-laki yang mirip dengannya. Dia Bernand humam adalah seorang laki-laki tua juga hidup dalam kesepian dan meninggalkan keramaian. Humam sosoknya emang sama dengan Barman tetapi ada perbedaannya. Mereka berlainan tujuan dan pandangan hidup. Humam lebih condong ketidakpedulian dengan kehidupan duniawi termasuk keinginannya untuk menikah lagi.
Setelah Barman bertemu dengan Humam dia jadi berfikir ulang terhadap keberadaan dirinya yang mengagetkan Barman ketika Humam meninggal. Humam meninggal dalam keadaan damai. Lelaki itu telah mengajari banyak hal buat Barman. Contohnya mengajari kebebasan dalam hidup ini.
Akhirnya Barman mulai berfikiran seperti Humam, dia ingin bebas lepas tidak tergantung oleh siapapun, Kalau kita tidak menginginkan apa-apa dari milik kita, berarti kita telah terbebas dari keiginan duniawi.
Popi merasakan perubahan pada diri suaminya. Suaminya menjadi lebih tidak memperhatikannya. Perubahan ini membuat Popi jadi cemas. Sehingga Popi lebih membebaskan suaminya untuk berbuat apa saja yang diinginkannya.
Akhirnya Barman hidup bebas memerdekakan dirinya dari keinginan bersifat materi. Barman pun menyebarkan pelajaran dari Humam itu kepada penduduk sekitarnya. Penduduk pun datang dan bertambah pula kedatangannya untuk meminta petunjuk kepadanya. Barman semakin bingung. Akhirnya jatuh ke dalam jurang sambil berteriak.
Orang-orang menemukan Barman dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Kemudian jasadnya dibawa pulang ke villa, dan penduduk berusaha mencari popi. Popi tetap tidak mau menemui orang-orang yang menunggunya keluar dari villa. Dia malah pergi meninggalkan villa, dan bertemu dengan seorang sosok laki-laki yang ada di mobil. Dia menumpahkan segala hasratnya kepada laki-laki itu.
3. MAKNA
Analisis semiotik ditekan pada sejauh mana aktivitas tokoh-tokoh yang berperan dengan segala peristiwa yang mendukungnya dan pemaknaan tanda-tanda yang terdapat dalam novel Khutbah Di atas Bukit. tokohnya yang bernama Barman sangat menyukai hidup di pegunungan. Menghabiskan waktunya setelah menjadi pensiunan pegawai negeri. Di pegunungan itu hidup dengan bahagia meskipun sebenarnya dalam hubungan yang lebih khusus, Barman tak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan . Suasana dalam pegunungan terasa sangat bersih sehingga mendukung untuk mencari ketenangan pada masa hari-hari tuanya.
Novel Di atas Bukit ini, dalam setiap perilaku tokoh-tokohnya dan kejadian-kejadian yang ada dalam setiap peristiwa yang dirangkai syarat dengan aksi dan peristiwa, penuh dengan ketegangan serta kejutan. Sehingga novel ini menjadi novel yang enak dibaca. Disini diperlukan peran pembaca untuk mengungkapkan makna yang ada.
Kuntowijoyo dalam mengungkapkan pergolakan jiwa seorang pensiunan pegawai negeri mulai dari Dia menghabiskan waktu hidupnya bersama istri barunya dengan udara pegunungan yang bersih dan suasana yang tenang dari ganggguan cucu-cucunya. Barman bertemu dengan seseorang yang bernama Humam. Dia juga mempunyai keinginan yang sama yaitu ingin bebas hidup menyendiri meninggalkan keramaian . Dia tidak mau terikat oleh berbagai keinginan, termasuk juga hasratnya kepada perempuan.
Novel Khutbah Di atas Bukit dalam kacamata semiotic mempunyai tanggapan yang positif. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa, orang menjalani hidup itu tergantung pada diri masing-masing.
Jalan untuk menuju kepadaNya juga masing-masing. Maka, jadilah diri sendiri yang mengerti tentang segala perintah dan larangan agama.
1. JUDUL DAN PENGARANGNYA
Judul : Mereka Bilang Saya Monyet
Pengarang : Djenar Maesa Ayu
2. SINOPSIS
Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau.
Namun tetap saja mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap hidangan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakan bahasa dan sikap yang sopan. Mereka bergaun indah dan berdasi. Bahkan konon mereka mempunyai hati.
Waktu saya menyatakan bahwa saya juga mempunyai hati, mereka tertawa dan memandang saya dengan penuh iba atas kebodohan saya. Katanya hati yang mereka maksudkan adalah perasaan, selain itu mereka juga mempunyai otak. Tapi ketika saya protes dan menyatakan bahwa saya pun punya otak, lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak. Katanya, otak yang mereka maksudkan adalah akal.
Yang saya tahu saat itu hanya hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu. Dan saya tambah tidak mengerti jika benar ini adalah perasaan yang mereka maksudkan, lalu mengapa bisa menertawakan saya tanpa mempedulikan perasaan saya sama sekali.
Saya meninggalkan mereka diam-diam. Suara tawa mereka makin lama makin menghilang seiring dengan bertambah jauh kaki saya melangkah. Saya tahu saya tidak perlu pergi dengan cara diam-diam. Kepergian saya toh tidak akan mengundang perhatian. Tapi mungkin itulah cara saya untuk menghibur diri sendiri dari keterasingan.
Tanpa saya sadari kaki saya sudah mengantarkan saya sampai di depan pintu kamar mandi.
Saya memperhatikan bayangan diri saya di dalam cermin dengan cermat. Saya berkaki dua, berkepala manusia, tapi menurut mereka saya adalah seekor binatang. Kata mereka saya adalah seekor monyet. Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan.
Kebutuhaan saya untuk buang air kecil semakin mendesak. Pintu kamar mandi masih terkunci. Saya mengetuk pintu pelan-pelan. Saya mendengar desahan tertahan. Saya kembali mengetuk pintu. Desahan itu berangsur diam. Saya mengintip lewat lubang kunci bersamaan dengan pintu dibuka dari dalam.
Seharusnya saya mengahajar laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking itu. Tapi saya memang tidak cepat bereaksi jika diserang tanpa ada persiapan. Atau mungkin saya memang tidak akan pernah mampu melawan walaupun sudah tahu akan diserang. Saya sudah tebiasa menelan rongsokan tanpa dikunyah lebih dulu. Saya sudah terbiasa kalah dan menelan kepahitan. Karena itu saya hanya terlongong-longong sambil menyaksikan mereka berdua berlalu.
Laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking duduk tepat di seberang saya. Perempuan yang tadi bersamanya di dalam kamar mandi duduk agak jauh dan sedang menyender kepala ularnya di atas dada laki-laki berkepala buaya yang lain. Laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking menyeringai sambil mengedipkan mata ke arah saya.
Malam semakin larut. Botol-botol bir kosong dan gelas-gelas yang setengah terisi memadati meja. Ketika mereka berbicara, suara mereka setengah teriak seperti hendak mengalahkan suara penyanyi dengan keyboard-nya.
Meja kami dikelilingi wajah-wajah berwarna merah dan mata yang mulai sayu. Tawa mereka mulai lepas. Tapi sikap mereka tetap pada batas-batas kewajaran.
Saya mulai jengah. Saya mulai mengangkat kaki saya ke atas meja. Si Kepala Gajah menghentakkan belalainya ke pipi saya dengan keras. Saya menatapnya sejenak lalu kembali asyik dengan diri saya sendiri. Si Kepala Serigala menendang kaki saya kesakitan.
Saya mengisyaratkan pemain keyboard untuk memainkan La Bamba. Saya mulai berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik dam suara saya terdengar tidak merdu. Saya berputar ke kiri, berputar ke kanan, bergerak maju, bergerak ke belakang, bertepuk tangan, berteriak kencang, duduk di atas pangkuan pemain keyboard dan semua yang ada di kafe itu ikut bersorak-sorai dan bertepuk tangan.
Akhirnya saya kembali ke meja dan menenggak satu gelas bir besar dalam satu kali tegukan. Saya tahu mereka yang mengaku berperasaan itu mungkin sedang diserang perasaan yang mereka namakan malu.
Si Kepala Gajah diam saja. Akhirnya saya menanyakan kepada semua yang berada di meja itu. Si Kepala Babi dan Si Kepala Kuda mendengus acuh tak acuh. Si Kepala Kuda meringkik. Si Kepala Sapi melenguh. Hanya Si Kepala Anjing yang berani menggonggong.
“Susah bicara dengan makhluk yang tidak punya otak! Sudahlah, kamu tidak akan pernah bisa mengerti apa yang saya katakan dan maksudkan. Kamu tidak punya akal untuk membedakan mana yang tidak dan mana yang pantas untuk kamu lakukan.”
Percuma bicara kepada seseorang atau tepatnya makhluk yang senang dan mampu berbohong pada diri sendiri. Saya menuang bir untuk kedua kalinya dan segera menuntaskannya kembali dalam satu kali tegukan. Ketika saya hendak menuang bir ke gelas saya untuk ketiga kalinya, Si Kepala Anjing menahan tangan saya.
Saya heran, tidak biasanya ia memperhatikan saya seperti sekarang ini. Mungkin ia tidak peduli andaikan saya mampus sekalipun! Ia hanya menyelamatkan dirinya dari rasa malu. Ia hanya tidak ingin saya melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan akalnya di muka umum.
Di depan umum ia hanyalah wanita berkepala anjing dan berbuntut babi yang kerap menyembunyikan buntutnya di kedua belah paha singanya. Ketika ia tidak di depan umum, saya tahu ia mengisap ganja, minum cognac dan menyerepet cocaine lewat kedua lubang hidungnya yang selalu basah.
Saya melihat laki-laki berkepala buaya yang sedang dimesrai oleh perempuan itu lebih mentereng ketimbang laki-laki berkepala buaya yang memaki saya di depan kamar mandi.
Namun seperti Si Kepala Anjing, sikap Si Kepala Buaya itu tiedak kalah berbuayanya jika berada di tempat umum. Mungkin saya harus mencolok mata mereka hingga buta supaya mereka bisa melihat dunia lewat pintu hati mereka, dan mereka tahu apa yang sebenarnya disebut perasaan.
3. MAKNA
Makna yang terkandung di dalam novel ini adalah bahwa kehidupan seorang anak yang telah hidup dengan kehidupan dunia malam yang membuat Dia menjadi tidak karuan, tetapi novel ini juga menceritakan dengan kehidupan dimasa kecilnya yang membuat dia menjadi benci terhadap keluarganya. Tetapi Dia sangat aktif terhadap laki-laki sebagai seorang penulis yang membuat Adjeng ini menjadi penulis cerita anak yang telah terkenal dan telah diterbitkan. Perilaku dan sifat tokoh Adjeng sama seperti halnya dengan sifat orang tuanya atau ibunya yang telah ditinggalkan oleh suaminya, tetapi dalam tokoh Adjeng ini menggambarkan bahwa kehidupan yang telah kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya yang tidak bisa membangkitkan dalam kehidupannya.